Senin, 20 Mei 2013

FALSAFAH HIDUP ORANG JAWA



FALSAFAH HIDUP ORANG JAWA

Dalam berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen  (kata-kata ungkapan) untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini atau boleh dikatakan banyak orang jawa yang kehilangan kepribadian aslinya, mungkin karena pengaruh kebudayaan dari luar negeri.sehingga orang jawa menjadi ikut - ikutan memakai kebudayaan dari luar dan merasa ketinggalan jaman jika tidak mengikuti trend dari luar negeri tersebut. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, "Wong Jowo sing ora njawani" atau “wong jowo ilang jawane”.
Berbeda lagi dengan orang jawa yang masih memegang falsafah hidup orang jawa (njawani) cenderung selalu berhati hati dalam bertindak. Karena mereka tidak ingin menyakiti maupun merugikan orang lain malah ingin membuat bahagia orang lain, karena dengan membuat bahagia orang lain berarti dia membuat bahagia dirinya sendiri.
Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.

1. Urip Iku Urup
Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

FALSAFAH KEJAWEN



FALSAFAH KEJAWEN

Pewarisan kawruh Kejawen atau falsafah Jawa dari generasi ke generasi berikutnya pada umumnya tidak disertai bahasa yang rasional dan mudah dipahami. Maka, sebagai akibatnya, kawruh Kejawen di masa kini banyak yang tidak dimengerti oleh orang Jawa sendiri. Bahkan kemudian banyak yang menganggap kawruh Kejawen sebagai klenik. Anggapan Kejawen sebagai tahayul atau klenik tersebut sudah pasti tidak nyaman dirasakan bagi kebanyakan orang Jawa. Oleh karena itulah, diperlukan penjelasan-penjelasan yang masuk akal tentang Kejawen guna menepis anggapan minor tersebut.
Untuk itulah, diperlukan sebuah usaha penjelasan sekaligus upaya menggugah kesadaran Jawa untuk kembali memiliki kedaulatan spiritual hingga kembali berjaya dalam peradaban umat manusia. Saatnya Jawa menyumbangkan cita-cita peradaban umat manusia yang ayem tentrem kerta raharja.
Jelas bahwa kawruh Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa. Merupakan sebuah kristalisasi pengalaman hidup orang Jawa sejak zaman prasejarah hingga zaman globalisasi saat ini. Sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta di Pulau Jawa. Sudah barang tentu ditambah hasil interaksi dengan falsafah dan kebudayaan bangsa-bangsa lain yang berdatangan ke Jawa sejak ratusan tahun lalu.
Dikarenakan sifat alam tanah Jawa vulkanis subur, warga masyarakat semenjak dahulu hidup bercocok tanam. Cara hidup agraris menjadi nuansa falsafah dan kebudayaan orang Jawa selalu selaras dengan suasana agraris yang mengutamakan mencapai kondisi masyarakat yang laras, ayem tentrem, dan rukun. Dengan demikian, tumbuh kembangnya naluri nalar dan rasa pangrasa orang Jawa selalu memuat tujuan dan upaya mencapai situasi dan kondisi masyarakat yang laras ayem tentrem kerta raharja dan rukun. Karena memiliki dasar tujuan yang seperti itu, maka menjadikan orang Jawa memiliki watak lower dan bisa menerima siapa saja sebagai saudara.
Karena memiliki toleransi yang kuat, orang Jawa bisa menerima dengan baik masuknya falsafah dan kebudayaan bangsa lain. Selanjutnya malah bisa membaur dengan rukun. Konon orang Jawa pandai mensinergikan falsafah dan kebudayaan aslinya dengan semua falsafah dan kebudayaan lain yang diterima. Kejawen merupakan tuntunan atau ajaran hidup yang di dalamnya termasuk konsep kebertuhanan orang Jawa. Maka Kejawen juga mencakup masalah hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta seisinya yang khas orang Jawa. Sedemikian rumit dan luas cakupan Kejawen sehingga pada masa kini masyarakat Jawa sendiri banyak yang tidak memahami Kejawen itu sendiri. Bahwa teologi, mitologi, kepercayaan, tradisi, dan adat Jawa adalah masuk akal sering diabaikan, dianggap yang tidak-tidak. Oleh karena itulah, perlu pemahaman agar ada saling pengertian antar komponen bangsa.
Apapun anggapan orang tentang Kejawen, kenyataannya sejauh ini Kejawen sudah berhasil mengampu perjalanan masyarakat Jawa sejak ribuan tahun yang lalu hingga kini. Maka Kejawen pasti memiliki sisi positif. Buktinya Jawa merupakan salah satu bagian bumi yang padat penduduknya. Posisi Jawa untuk Indonesia sangat penting. Pulau Jawa yang luasnya cuma 6 persen luas daratan Indonesia, namun menampung 60 persen penduduk Indonesia. Dengan demikian, jelas bisa dibuktikan bahwa situasi dan kondisi di Jawa sangat nyaman bagi umat manusia untuk berkembang biak dan bermukim.
Kenyamanan itu salah satu penyebabnya adalah sistem kemasyarakatan Jawa yang beradab serta tidak senang konflik. Sistem kemasyarakatan sudah pasti terbangun oleh adanya falsafah hidup masyarakat yang tidak lain kawruh Kejawen. Begitu rupa beradab dan berbudayanya Jawa sehingga di pulau ini ada peninggalan tempat melaksanakan ritual agama seperti Borobudur yang megah dan Candi Prambanan yang anggun. Indah dan populis

Kamis, 16 Mei 2013

Filosofi dan Makna Wayang

FILOSOFI MAKNA
WAYANG, SASTRA DAN NEGARA*)
Oleh: Tarsoen Waryono**)
Abstrak
Seni pewayangan sebagai salah satu seni budaya bangasa yang adiluhung, dimasa keemasannya media ini menjadi corong untuk menginformasikan dan mensosialisasikan banyak hal yang berhubungan dengan masalah tata laku kehidupan yang terjadi pada eranya masing-masing. Pepatah bahwa kuncaraning bangsa gumantung ana kaluhuring budaya, kini memiliki makna starategis karena budaya mencerminkan ”identitas dan jatidiri bangsa”, Jadi sangatlah tepat bahwa seni budaya wayang kulit yang merupakan salah satu unsur budaya bangsa Indonesia, telah diakui oleh UNESCO sebagai ”Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity”.
Pendahuluan
Berbagai kisah kolosal (lakon) dalam dunia pewayangan seperti Ramayana, Mahabarata, dan Baratayudha adalah sebuah karya besar yang menajubkan dari seseorang pujangga. Pertama kalinya kisah kolosal tersebut dituliskan oleh pujangga India, dan secara berangsur-angsur diteruskan oleh pujangga-pujangga Jawa yang menuliskannya kembali dalam versi Jawa, seperti yang dilakukan oleh Mpu Kanwa, Mpu Prapanca, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
Secara sekilas kisah kehidupan dunia wayang yang seperti juga dunia manusia. Selain bertutur tentang kehidupan dari generasi ke generasi dengan ratusan tokoh dan karakternya, juga merupakan tempat berinteraksinya beberapa ras atau bangsa. Ras dan atau bangsa dimaksud antara lain seperti bangsa dewa, bangsa kesatria, bangsa ular, bangsa kera, bangsa samudra, bangsa raksasa, bangsa gandarwo, bangsa banaspati, yang kesemuanya hidup dalam satu dunia, yaitu dunia pewayangan.
Mencermati dunia pewayangan, apabila ditelaah secara mendalam terhadap masing-masing tokoh berdasarkan karakternya, dapat disarikan bahwa makna dalam dunia pewayangan memberikan kisah tentang perilaku yang memiliki karakter kebaikan (keteladanan, kejujuran, dan pengorbanan), maupun karakter keburukan (kemarahan, kecongkakan, dedam dan kekecewaan). Oleh sebab itu para pencinta wayang kulit selalu bercermin terhadap hal-ikwal kebaikan dan keburukan, hingga munculah kemawasan diri dalam sanubarinya.
Dalam makalah ini penulis mencoba untuk menelaah filosofi makna wayang, sastra dan bela negara dalam dunia pewayangan.
Wayang dan Maknanya
filosofi (filsafat) wayang, sastra dan negara secara umum sering diartikan sebagai pemahaman makna dunia pewayangan yang sangat mendalam, serta memiliki latar belakang realitas arti hidup dan kehidupan dalam dunia pewayangan. Filsafat dunia pewayangan dapat ditemukan di 3 lapisan yaitu: (a) ajaran, (b) sosok dan karakter tokoh, serta (c) keyakinan dan pandangan-pandangannya.
*). Saresehan Budaya Wayang Kulit, 8 Agustus 2008. KBRI Berlin Jerman.
**). Kominitas Wayang Universitas Indonesia (KWUI) dan Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA-UI.
Ajaran-ajaran dan atau wejangan merupakan tatanan khas jawa yang spesifik untuk menyampaikan amanah dan petuah yang sekaligus memuat kebijaksanaan eksistensi manusia. Karakter dan kekuatan sosok dalam dunia pewayangan cukup beragam seperti Pandawa, Kurawa, Pancawati dan Ngalengkadireja. Demikian halnya dengan peran ponokawan seperti Semar dan atau Togog. Berbeda halnya dengan pemahaman makna keyakinan dan pandangan dalam dunia pewayangan yang pada akhirnya diperolehnya istilah ”becik ketitik ala ketara; sapa gawe bakal nganggo ”.
Wayang diartikan sebagai bayang (bayangan), sehingga memiliki dua makna yaitu: (a) bayangan yang ditonton (dilihat dari belakang layar), dan (b) melihat bayangan perilaku kehidupan manusia yang memberikan pemahaman antara perilaku yang baik dan buruk. Kedua perilaku tersebut secara fisik (bentuk dan norma wayang) juga terlihat secara jelas. Mengapa muka wayang ada yang berwarna hitam, merah, dan atau hijau keungguan. Muka wayang berwarna hitam menunjukkan seorang kesatria yang memiliki kemantapan diri sebagai panutan (kesatria), berbeda dengan muka wayang berwarna merah menunjukkan seorang yang memiliki panutan sebagai punggawa atau manggala. Selain muka wayang, ciri spesifik wayang juga ditandai oleh lengan wayang. Ada wayang yang lengannya (tangan) dua (normal), ada wayang dengan dua tangan, akan tetapi satu satu tangannya masuk ke dalam saku (bala buta), dan seterusnya dan seterusnya, yang mencirikan makna yang berbeda.
Secara fisik dunia pewayangan dilengkapi dengan layar (kelir) yang diibaratkan sebagai ruang (atara bumi dan langit), batang pisang sebagai bumi (tanah), dan lampu sebagai sinar matahari. Dalam dunia pewayangan pemrakarsanya disebut ”Ki Dalang”, walaupun umurnya masih remaja, sedangkan penata dan penabuh gamelan (musik) disebut niaga. Ki dalang memiliki makna seseorang yang mampu ngudal (telaah) piwulang (keilmuan) , yaitu mengungkap pengetahuan, kisah-kisah dalam andegan lakon (ceritera) wayang.
Sastra Dalam Pewayangan
Pemahaman makna sastra dalam dunia pewayangan pada dasarnya diawali dari penelusuran kaslian asal-usul ceritera wayang, dan proses penyebarannya. Asal-usul ceritera wayang telah diakuai berasal dari India, dan ditulis dalam bahasa sansekerta. Proses adaptasi penyebaran di Indonesia terutama di P. Jawa, naskah-naskah kebrahmanaan, disampaikan oleh para Brahmana , demikian halnya naskah-naskah disampaian oleh Kesatria , hanya menyampaikan hal-hal yang erat kaitannya dengan dunia perang.
Pada saat awal budaya wayang diimplementasikan masih mendekati pakem, karena hanya menerima dan melakukan. Namun demikian pada tahap-tahap berikutnya mulai mengalami perubahan-perubahan, dimana kisah-kisah wayang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis situasi kekinian. Bagi para politikus, tokoh wayang diidentikan dengan tokohnya, sebagai alat propaganda. Bahkan ketika meng-islam -kan Jawa, Sunan Kudus menggunakan media pementasan wayang.
Dalam dunia sastra moderen Indonesia, perubahan-perubahan kisah wayang banyak dijumpai seperti yang ditulis oleh Sindhu Nata, Herman Pratikto, Seno Gumira Adjidarma, Danarto, Putu Wijaya (wayang Bali), Hermawan Aksan, dan Pitoyo Amrih. Inovasi perubahan dalam sastra dunia pewayangan adalah ceritera karangan seperti Antasena (anak Bima dengan Dewi Urang Ayu) yang pakem aslinya tidak ada, akan tetapi menjadi cukup menarik, karena mengungak ceritera bangsa samudera.
Perubahan secara spasial yang terjadi di Jawa, dikenalnya 3 gagrag (gaya) karena inovasi kedaerahan. Gagrag Mataraman, tumbuh dan berkembang di daerah Yogjakarta, gagrag Solo mendominansi di daerah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, sedangkan gagrag Banyumas, mendominansi di Jawa tengah bagian barat. Perbedaan gagrag tersebut dicirikan oleh spesifik implementasinya. Matraman dan Solo memang menunjukkan perbedaan yang cukup mendasar, sedangkan gagrag Banyumasan lebih mengadopsi dari dua kubu yang berbeda, dengan dibangunnya kreasi-kreasi baru.
Tumbuh berkembangnya waktu perubahan mendasar hingga saat sekarang telah merambah terhadap bentuk pakeliran, gaya campuran yang dipelopori oleh Ki Nartosabdo (Alm) sejak dekade tahun 1970-an. Pengaruh gaya campuran dalam dunia pewayangan, kini menjadi sulit bahkan langka untuk mendapatkan dalang sejati, dan yang melimpah adalah dalang wiguna yang mementingkan segi keramaian dan finansial.
Sebagaimana kisah-kisah di dalam Mitologi Yunani, kisah-kisah yang ada di dalam dunia pewayangan seakan tak habis-habisnya untuk diberi makna baru. Disana tersimpan

Selasa, 26 Maret 2013

Makna Tokoh Punakawan dalam Wayang


Makna Tokoh Punakawan dalam Wayang
Wayang, mungkin tidak asing lagi di telinga kita. kebudayaan asli Indonesia yang merupakan ciptaan dari Sunan Kalijaga. Wayang diciptakan Sunan Kalijaga sebagai metode dakwah islam agar dekat dengan kehidupan masyarakat terdahulu.

Berikut ini saya akan memperkenalkan beberapa tokoh wayang diantaranya tokoh Punakawan yang mungkin banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia.
1. Ki Lurah Semar (simbol ketentraman dan keselamatan hidup)
Membahas Semar tentunya akan panjang lebar seperti tidak ada titik akhirnya. Semar sebagai simbol Bapa manusia Jawa. Bahkan dalam kitab Jangka Jayabaya, Semar digunakan untuk menunjuk penasehat Raja-raja di tanah Jawa yang telah hidup lebih dari 2500 tahun. Dalam hal ini Ki Lurah Semar tiada lain adalah Ki Sabdapalon dan Ki Nayagenggong, dua saudara kembar penasehat spiritual Raja-raja. Sosoknya sangat misterius, seolah antara nyata dan tidak nyata, tapi jika melihat tanda-tandanya orang yang menyangkal akan menjadi ragu. Ki Lurah Semar dalam konteks Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan Bapa atau Dahyang-nya manusia Jawa. Menurut jangka Jayabaya kelak saudara kembar tersebut akan hadir kembali setelah 500 tahun sejak jatuhnya Majapahit untuk memberi pelajaran kepada momongannya manusia Jawa (nusantara). Jika dihitung kedatangannya kembali, yakni berkisar antara tahun 2005 hingga 2013. Maka bagi para satria momongannya Ki Lurah Semar ibarat menjadi jimat; mung siji tur dirumat. Selain menjadi penasehat, punakawan akan menjadi penolong dan juru selamat/pelindung tatkala para satria momongannya dalam keadaan bahaya.


Minggu, 29 Juli 2012

Faktor Lunturnya Budaya Jawa


 Faktor Penyebab Lunturnya Budaya Jawa

1.       Globalisasi

Menurut seorang ahli, globalisasi merujuk pada naiknya perubahan kegiatan dan proses kemanusiaan yang terjadi selama dua puluh lima tahun terakhir abad ke-dua puluh. Globalisasi juga menandakan kenaikan organisasi-organisasi global dalam beraneka ragam bidang, sekaligus juga negara itu ikut andil pula dalam menghilangkan pengaruh-pengaruh asing. Globalisasi merupakan proses mempercepat dan membentuk kecepatan skala mobilitas serta aliran orang-orang, barang-barang, jasa, modal, pengetahuan dan ide-ide. Globalisasi dibantu oleh kemajuan teknologi menghasilkan batasan waktu dan tempat, serta penyebaran hidup yang modern, khususnya bagi orang yang berasal dari negara-negara Barat. Dorongan globalisasi terjadi baik dari kekuatan militer dan kekuasaan administratif maupun kekuasaan ideologi dan kebudayaan halus.

Istilah globalisasi ini dapat merujuk satu proses, konsep atau organisasi dimanapun yang memiliki potensi atau keinginan berada pada skala global. Arti yang sejati dari globalisasi dapat diinterpretasi mengenai apapun yang ingin mencari identitasnya pada skala global. Oleh karena itu, konsep-konsep seperti pasar global, undang-undang global dan kebudayaan global timbul.
Pada tahun 1960-an, seorang Amerika bernama Marshall McLuhan pertama kali menciptakan istilah baru ‘desa global’ (global village). Yang merujuk titik waktu di masa depan dimana segala masyarakat dan bangsa di dunia akan disatukan melalui partisipasi kolektif dalam urusan-urusan dunia. Sehingga, sejak zaman itu dunia telah menyaksikan kemajuan teknologi yang luar biasa yang telah membantu realisasi istilah desa global ini. Walaupun pada tingkat akar rumput (grassroots) desa global ini masih belum jadi kenyataan hingga sekarang di banyak negara-negara berkembang yang ditinggalkan proses global ini.
Globalisasi ekonomik menyebabkan dampak paling besar terhadap kebudayaan. Karena mampu berdampak dan memengaruhi cara hidup orang-orang melalui kontrol pasar (market control), gejolak harga, kompetisi dan lain lain. Dari pandangan psikologi, tak ada masyarakat di dunia yang akan secara mudah melepaskan diri dari apa yang membuat mereka jadi ‘mereka’. Apabila melihat contoh-contoh dari zaman dulu, orang-orang akan berkelahi atau berperang untuk melestarikan identitasnya. Meskipun begitu, ada beberapa aspek kebudayaan yang tak dapat diabaikan. Seperti daya tarik kebudayaan populer yang sangat menarik bagi cukup banyak orang sekarang ini dan memiliki potensi untuk mengganggu orang-orang dari aspek-aspek kebudayaan mereka yang tradisional. Kaum muda pada khususnya adalah kelompok yang mudah dipengaruhi citra dan pesona yang disediakan kebudayaan populer. Hal ini merupakan contoh, dimana beberapa pengaruh dapat dicampur karena bukan saja globalisasi yang berdampak pada kebudayaan, tetapi juga media massa yang dipakai untuk menyampaikan kebudayaan populer ini.Untuk masyarakat jawa, globalisasi tidak begitu berdampak besar pada bidang ekonomi karena kebanyakan barang-barang dijual dan dibeli di pasar-pasar lokal, khususnya barang-barang pertanian, walaupun di kota modern dampaknya tak dapat mutlak diabaikan. Dari pendapat masyarakat, khususnya yang memiliki upah rendah, globalisasi adalah sesuatu yang mampu berdampak besar pada cara hidup mereka. Ada yang berfikir globalisasi adalah kemajuan zaman, namun ada yang mengatakan globalisasi tak bisa dihindari sehingga agak mengkhawatirkan untuk masa depan mereka. Bagi beberapa responden, globalisasi erat terkait dengan penyebaran teknologi informasi dan internet yang pasti akan berdampak pada kebudayaan.

Ada beberapa explanasi yang menjelaskan mengapa orang-orang ingin menyampaikan pendapat-pendapatnya akan globalisasi dalam konteks negatif. Pertama, mereka merasa takut salah atau kurang mengerti pokok globalisasi dan bagaimana berdampak pada masyarakat-masyarakat. Kedua, karena globalisasi sering kali dipandang selaras dengan modernisasi, turisme dan media massa. Sehingga globalisasi dipandang sebagai pengaruh terbesar yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan mereka. Ketiga, ketakutan ini mungkin berasal dari sikap tebaklah dimana orang-orang memandang globalisasi sebagai sesuatu yang begitu besar dan tak dapat dihindari sehingga memunculkan perasaaan kesal dan gusar.
Globalisasi merupakan penyebab lunturnya kebudayaan Jawa yang memiliki potensi membawa manfaat atau kerusakan bagi kebudayaan dimanapun di dunia ini, terutama bagi kebudayaan Jawa. Namun, di dalam istilah globalisasi ini, jika dilihat dari perspektif kebudayaan tidak membawa ancaman besar. Pada intinya, globalisasi itu satu istilah yang dipakai untuk menjelaskan arah dan tujuan pengaruh-pengaruh lain yang berada di dunia seperti modernisasi dan media massa yang menyebabkan kecanggihan komunikasi dan transportasi. Oleh karena itu, globalisasi pertama kali dikenal sebagai perkenalan untuk pengaruh-pengaruh lain yang berada antara masyarakat Jawa yang memiliki ciri-ciri lebih spesifik dan lebih mudah untuk mengidentifikasikan akibat-akibat yang mungkin pada kebudayaan.

Lunturnya Nilai Budaya

Lunturnya Nilai Budaya

Nilai-nilai budaya lokal dewasa ini kian luntur, bahkan menghilang di masyarakat. Kecenderungan ini hampir terlihat dalam pelbagai peri-kehidupan, baik sosial, politik, maupun hukum. Diperlukan buda yawan tangguh sebagai katalisator perubahan zaman.

Hal itu mengemuka di dalam Diskusi bertajuk "Budayawan di Tengah Arus Zaman", Senin (2/11) di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran. Diskusi untuk mengenang penyair WS Rendra ini dihadiri pem bicara Rektor Unpad Ganjar Kurnia, budayawan Acil Bimbo, dan dosen Unpad Yesmil Anwar serta Miranda Risang Ayu.

Secara gamblang, Acil Bimbo mengatakan, masyarakat kita saat ini tengah mengalami kerusakan dari sisi budaya. Yang lebih dominan muncul saat ini adalah karakter egois, individualis, konsumtif, kehilangan nasionalisme, krisis kreatif dalam berseni. Nilai-nilai budaya makin tergeser, ucap pendiri Bandung Spirit ini.

Ia pun khawatir, anekdot yang menyatakan, Jika ingin merusak bangsa, hancurkan saja budayanya kini betul-betul tengah terjadi. 

"Dulu, Bandung dikenal sebagai kota budaya, kota intelektual dan kota perjuangan. Hari ini, itu semua telah berubah. Yang terlihat hanya Bandung kota outlet," ucapnya mencontohkan lebih dominannya faktor ekonomi daripada unsur budaya saat ini.

Menurutnya, lunturnya budaya secara tidak langsung dipengaruhi oleh perilaku televisi kita. Budaya di TV mendapatkan porsi yang sangat minimal dengan alasan rendahnya rating. "Dewasa ini, lebih berharga gosip dan sinetron ketimbang tontonan budaya," ucapnya.

Lebih parah lagi, lunturnya nilai-nilai budaya terjadi pula di kehidupan hukum. "Sekarang, tolong tunjuk tangan, apakah ada yang hadir di sini tidak normal, memproses SIM tidak dengan cara nembak? Inilah ironi budaya hukum kita. Yang tidak nembak, justru dianggap tidak normal," ucapnya.

Budaya kesadaran hukum masyarakat, ucap dosen Fakultas Hukum Unpad ini, kini berada di titik terendah, kalau tidak bisa dikatakan sudah mati. Para pelanggar ironisnya justru para pembuat hukum. "Budaya kita tidak jalan karena nuansa politiknya lebih kuat," ucapnya.

Mercu suar

Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini membutuhkan sosok seperti Soekarno yang bisa menjadi mercu suar bidang hukum. Budayawan, menurutnya, bisa menjadi layaknya oksigen yang vital di dalam tubuh. "Salah satu budayawan besar yang patut kita tiru adalah Rendra," tutur Acil Bimbo.

Untuk bisa menjadi panutan masyarakat, Ganjar Kurnia mengatakan, budayawan dan seniman dituntut lebih aktif di masyarakat. Tidak lagi asyik hidup dengan dunianya sendiri. Perguruan tinggi seperti Unpad bisa menjadi lembaga ideal yang mengawal proses perubahan di masyarakat.

Tidak ketinggalan, Miranda Ayu juga ikut menekankan arti pentingnya budayawan dalam kehidupan hukum masyarakat. "Masyarakat kita membutuhkan orang yang berkarakter yang bisa dijadikan panutan. Budayawan adalah orang yang tepat karena mereka peka dengan nilai-nilai. Mereka bukan hanya sebagai pemberi cahaya, melainkan juga memberi alternatif-alternatif pemecahan suatu persoalan," tuturnya.

Dalam acara ini, Acil Bimbo sempat menyanyikan Lagu Jual Beli yang liriknya diambil dari puisi Taufiq Ismail. ..."Semua telah terjual, semua telah tergadai. Masih ada satu barangkali , yaitu harga diri dan kehormatan. Tetapi, ketika dicari, tidak ada lagi, tidak ada lagi."


Selasa, 24 April 2012

Harmoni, malu dan karma menurut pandangan Jawa

Harmoni

Pandangan orang Jawa tentang harmoni atau keselarasan hampir sama dengan pandangan Herakleitos (dalam filsafat alam, Yunani). Bahwa, alam ini sudah “ada” dalam keadaan yang “selaras atau harmonis”. Ada dunia sebagai tempat tinggal, ada tumbuh- tumbuhan dan binatang sebagai “modal” mencari makan dan manusianya tinggal merawatnya saja, serta menjaga agar semuanya berjalan semestinya supaya alam tetap selaras atau harmonis.
Ada oknum yang selalu mengupayakan untuk selalu menjaga dan mengatur alam semesta ini tetap dalam keadaan selaras adalah adanya kuasa-kuasa adikodrati. Kalau realitas alam keselarasannya menjadi terganggu oleh “tingkah” manusia, maka keseluruhan totalitas alam turut terganggu. Sehingga, orang Jawa mengalami dunianya sebagai tempat dimana kesejahteraannya tergantung dari apakah ia berhasil untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan yang angker itu. Oleh karena itu, orang Jawa perlu mengadakan sesajen yang maksudnya agar kuasa-kuasa roh / adikodrati itu tidak marah dan tetap menyelenggarakan pekerjaannya. Dan selamatan yang tidak lain dimaksudkan untuk mengungkapkan kepada hadirin bahwa diantara para tetangga terdapat kerukunan dan keselarasan; dan dengan demikian keadaan masyarakat dibaharui dan kekuatan-kekuatan yang berbahaya dinetralisasikan.
Pandangan Jawa mengenai keharmonisan atau keselarasan alam menjadi penting atau sebagai titik sentral, karena selain susunan alam merupakan kesatuan total yang dapat dibaca / di”ngerteni” oleh manusia, maka keseluruhan aspek kehidupan orang Jawa harus selaras dan seiring dengan gerak alam semesta. Dan dalam buku Magnis Suseno (1991, hal. 82) dikatakan bahwa “pada hakekatnya orang Jawa tidak membedakan antara sikap-sikap religius dan bukan religius, dan interaksi-interaksi sosial sekaligus merupakan sikap terhadap alam, sebagaimana juga sikap terhadap alam sekaligus mempunyai relevansi sosial.” Selanjutnya ditambahkan pula bahwa “pandangan dunia bagi orang Jawa bukan suatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya untuk berhasil dalam menghadapi masalah kehidupan.” Dalam rangka ini semua, orang Jawa harus menciptakan suasana ketenangan, ketentraman, dan keseimbangan batin pada dirinya maupun bagi sesamanya, menciptakan kerukunan dan sikap hormat, menghindari konflik terbuka.

Rukun

Rukun mempunyai arti”berada dalam keadaan selaras”, “tenang dan tentram”, “tanpa perselisihan dan pertentangan”, “bersatu dalam maksud untuk saling membantu”.
Situasi rukun ini harus diciptakan untuk manjaga kelarasan dan keharmonisan sosial yang berarti keadaan ideal dalam masyarakat tetap dipertahankan. Denngan demikian, ini menjadi sumber moril bagi mereka, yang berfungsi sebagai pengontrol nilai dan norma masyarakat. Sedangkan yang bertugas sebagai pengontrol adalah masyarakat atau lingkungannya sendiri.
Sikap orang Jawa yang selalu muncul bila sedang berinteraksi dengan orang atau masyarakat lain yaitu mereka akan selalu bersikap untuk menghindari konflik secara terbuka atau terang-terangan. Dengan demikian, dalam hidup orang Jawa dalam upaya menjaga keselarasan sosial, mereka harus bersikap menyesuaikan diri, bersikap sopan santun, dan mewujudkan kerja sama, serta bersikap menghormati kepada orang yang bersikap baik dan lebih tinggi kedudukannya dalam struktur hirarkis yang menunjukkan orang lain lebih tinggi (kedudukan jabatan, usia) penting untuk mendapatkan pengakuan sosial dari masyarakat.
Dalam rangka rukun, bisa saja muncul sikap yang demi mementingkan hubungan atau lancarnya interaksi yang terjadi dan agar kelihatan rukun orang bersikap ‘ethok-ethok’ (berpura-pura) terhadap sesamanya. Sikap ‘ethok-ethok’ atau ‘kepura-puraan’ hal ini dianggap sebagai cara yang baik untuk menghadapi keadaan tertentu yang menyusahkan, dan merupakan suatu seni yang tinggi dan positif; serta di luar keluarga inti orang tidak akan memperlihatkan perasaan-perasaan yang sebenarnya, terutama perasaan-perasaan negatif.
Agar tidak terjadi konflik terbuka, selain orang Jawa harus menjaga melalui sikap-sikap seperti yang telah diuraikan di atas, ada sikap lain yang dianggap baik (dalam arti untuk mencegah konflik) adalah ‘jothakan’ (sikap tidak saling bertegur sapa). ‘Jothakan’ ini bukan konflik, walaupun mereka saling mendiamkan karena sesuatu yang telah terjadi di antara mereka. Justru dengan ‘jothakan’ mereka bermaksud untuk menghindari konflik, dan ini biasanya hanya bersifat temporair. Sikap ini diakui oleh masyarakat, bahkan dalam arti tertentu dapat diterima secara moral.

Malu

Isin dapat diterjemahkan sebagai “malu, enggan, canggung (keki), salah”. Rasa malu atau “isin” sudah dikembangkan sejak kecil, anak diajar untuk bersikap malu kepada tetangganya atau kepada masyarakat lainnya, kalau ada suatu kekeliruan yang patut ditegur. Sehingga anak yang seringkali ditegur kalau berbuat salah dihadapan orang lain ia akan langsung menunjukkan sikap malu-malu. Sikap ini “isin” atau malu dapat muncul dalam setiap situasi sosial, yang terjadi di luar hubungan keluarga sendiri. Sehingga, orang Jawa dalam hubungannya dengan orang lain selalu berada dalam keadaan tertekan perasaan “isin” atau malu.
Perasaan “wedi dan sungkan”pun sebenarnya muncul dalam rangka “isin”. Dalam sistem pendidikan yang diberlakukan pada anaknya, orang Jawa mendidik anaknya untuk selalu bersikap “wedi” yang maksudnya takut kepada orang lain. Anak sejak kecil sudah diajar “wedi” terhadap orang yang harus dihormati. Sikap ini biasanya dikaitkan dengan sikap hormat terhadap orang yang lebih tua. Sehingga kalau ada sesuatu terjadi padanya, ia akan merasa “wedi” dan sekaligus “isin” kalau kalau ketahuan salah.

Karma

Bagi orang Jawa, karma adalah buah perbuatan keinginan leluhurnya dan buah kelakuan sendiri pada masa lampau dan sekarang. Karma juga menunjuk pada hukum illahi yang memayungi segala tindak-tanduk manusia. Kerangka berpikir orang Jawa dalam hal ini selalu berpegang pada pola pemikiran pembalasan dalam hidup sekarang dari perilaku lampau yang telah dilakukan. Kalau misalnya ada orang yang mengejek orang cacad, akan diperingatkan bahwa nanti ia akan “kuwalat” akan sama seperti dia yang cacad, atau nanti akan kena hukuman dari yang kuasa.

Referensi:
Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa, Jakarta, Gramedia, cet. IV.
Drs. Robert M. Z. Lawang, Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi ANN 111/3SKS/MODUL 1-5, Jakarta, Universitas Terbuka, 1984/1985

Memelihara Etika Pergaulan

Pada artikel ini akan dikupas lebih lanjut tentang Memelihara Etika Pergaulan, yang mana apa saja yang berkaitan dengan etika pergaulan akan saya bicarakan disini.

A. Apakah Etika Pergaulan itu ? 
Etika pergaulan yaitu sopan santun / tata krama dalam pergaulan yang sesuai dengan situasi dan keadaan serta tidak melanggar norma-norma yang berlaku baik norma agama, kesopanan, adat, hukum dan lain-lain.

B. Mengapa Etika Pergaulan harus diperhatikan ? 
1. Manusia dituntut untuk saling berhubungan, mengenal dan membantu. 
2. Agar tingkah laku kita diterima dan disenangi oleh siapa saja yang bergaul dengan kita. 
3. Tata krama dan tingkah laku sehari-hari merupakan cermin pribadi kita sendiri

C. Apa yang harus diperhatikan dalam etika pergaulan ? 
1. Pandai menempatkan diri 
2. Dapat membedakan bagaimana sikap kita terhadap orang yang lebih tua, sebaya, dan yang lebih muda. Misalnya : 
  • Orang yang lebih tua / yang dituakan harus kita hormati. 
  • Orang yang sebaya harus dihargai 
  • Orang yang lebih muda harus disayangi. 
  • Di Rumah : 

D. Dimana dan kapan saja kita harus ber Etika? 
Dalam berinteraksi/berhubungan timbal balik dengan seluruh anggota keluarga. 
1. Di Sekolah : 
Dalam berinteraksi/hubungan timbal balik dengan seluruh personal (Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Administrasi/TU, Pesuruh Sekolah, Teman dan lain sebagainya. 
2. Di Masyarakat : 
Dalam berinteraksi/hubungan timbal balik dengan anggota masyarakat. Misal di Toko dengan pelayan Toko, di Kantor Pos dengan karyawannya, dan sebagainya. 

E. Beberapa contoh sopan santun dalam pergaulan : 
  1. Dalam berbicara 
  2. Dalam berkenalan 
  3. Dalam menelpon 
  4. Dalam menegur / memberi hormat 
  5. Dalam bertamu 
  6. Dalam berpakaian 
  7. Dalam surat-menyurat. 
Sedikit pengetahuan mengenai etika pergaulan, semoga bisa dialikasikan dalam masyarakat. Semoga bermanfaat! http://belajarpsikologi.com/memelihara-etika-pergaulan/

Kamis, 08 September 2011

Bolehkah Kita Membatalkan Puasa

Sebulan penuh kita menahan nafsu Dari lapar dan dahaga Dari mata, hati dan telinga yang mengundang angkara murka Kemudian kita banyak melakukan amalan-amalan Mendekatkan diri pada Ilahi Robbi Menjelang akhir ramadhan, aku bingung kepada keadaan Penetapan 1 Syawal slalu menjadi perbedaan dan perdebatan Apakah tidak dapat disatukan perbedaan itu? Aku pun mulai ragu... Takbir pun mulai bertalu-talu kepada mereka yang merayakan pada hari itu Sedangkan di lain sisi masih ada yang berpuasa Bolehkah kita membatalkan puasa? Waktu masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA guru agama kita pernah berkata “Kalau Gema Takbir tlah mengumandang kita diharamkan berpuasa” Tapi beberapa tahun ini perkataan guru kita sedikit tak berarti Buktinya mereka masih ada yang berpuasa wlapun takbir tlah menggema Dosakah, haramkah bila ada suara takbir kita masih berpuasa? Kedua pertanyaan itu yang slalu menghantui kita slama beberapa tahun ini Hmmm... mungkin karena pemahaman agamaku yang kurang barang kali... sehingga aku tak mengerti tentang semua ini... Kota Bambu, 29 Agustus 2011 By bossgaul

DIK ISTY

Dik Isty... Saat pertama kali kita bertemu aku memang tidak menghiraukanmu... Seiring berjalannya waktu... Tiga bulan setelah bertemu... Aku mulai bingung ada apa di dadaku? Yang jelas aq mulai merasakan rindu padamu Dik Isty... Engkaulah satu dari beribu-ribu bidadari yang tersangkut dihatiku Walaupun waktu itu engkau sudah ada yang memiliki... Aku slalu setia untuk menanti... Hari berganti bulan, bulan berganti tahun kesetiaanku... Rasa rinduku, dan cintaku padamu masih seperti yang dulu Dik Isty... Engkau memang berparas ayu, lelaki manapun pasti terpikat olehmu Engkau memang gadis metropolitan yang selalu mengikuti perkembangan zaman Engkau bagaikan artis papan atas yang slalu mengutamakan penampilan berkelas Engkau memang bidadari dari segala bidadari yang slalu memikat hatiku... Di kala surya mulai menampakkan hidungnya... Di kala Dzuhur telah tiba... Hingga surya terbenam berganti malam engkau slalu tertanam di dalam dada Dan slalu ada dalam setiap hembusan nafasku... Dik Isty... Tiga tahun sudah aku setia menanti... Namun dirimu juga belum mengerti Memang tak pernah ada sedikit rindu di dalam hatimu untukku Namun niatku tetap sama seperti dulu Ingin membahagiakanmu... Ingin memberikan kasih sayang yang tulus padamu... Bahkan ingin menjadi imammu Dik Isty... Bila rasa cinta, rindu, dan sayank kepadamu salah, Bila semua rasa itu tlah melukai perasaan dan hatimu, Bila membuat amarah, jengkel dan pusing tujuh keliling maafkan diriku... Walau ini hanya mimpi di atas mimpi, Namun dirimu akan slalu menjadi bidadari di setiap ceritaku Kekal abadi sampai ajal menjemput... Ngawi, 28 Agustus 2011 By Mazzrudysae Persembahan untuk bidadari impianku

Senin, 15 Agustus 2011

Chandik Ayu Anggeguyu

Chandik Ayu Anggeguyu

Aku nyawang mlebu ati, ing tresna kang tak alami
Dudu bandho dudu rupa sing njalari, ati kang njolo tan’kno dikendaleni
Kawitan pancen sepele ing rembugan sak anane
Tak sawang atimu katon ngawe-awe aku kesengsem nganti tekan seprene

Aduh tresno wis nyawiji ingkang gawe bungah ati iki
Dadaku sesek yen dong kangen ati sumpek mergo leh ngangen-angen
Opo ono piwalesmu, iki tresno mung mligi kanggomu
Tak pasrah ake mring sliramu, ojo nganti candhik ayu anggeguyu

Atiku tetep duwekmu, isih tresno siang dhalu
Dadi bukti tresno suci isih ono, antuk pambagyo dewa sang kamajaya


Terjemahan :

Saya melihat pada diri ini tentang kisah cinta yg pernah saya alami
Bukan harta atau wajah yang menjadi sebab melainkan dari dalam hati yang tidak dapat dikendalikan dan terus bergejolak, berawal dari suatu percakapan  sederhana tanpa ada rekayasa aku melihat hatimu memanggil kalbuku sehingga menumbuhkan rasa cinta sampai sekarang

Cinta  sudah menyatu dan membuat senang hati ini
Hati pun terasa sesak ketika rindu, hati pun juga bingung karena slalu mengharapkan dirinya
Apa ada balasan darimu? Cinta ini hanya cocok untuk dirimu lalu aku pasrahkan Cuma buat kamu dan janganlah keindahan itu hanya menertawakan/menjadi mimpiku.

Hatiku tetap milikmu, masih cinta siang malam bahkan menjadi sebuah bukti tentang cinta sejati serta mudah-mudahan mendapatkan kebahagiaan dari Tuhan Yang Maha Esa

by Kang Mas CJDW

Titik dan Garis

Titik tak akan bertemu dengan garis demikian sebaliknya garis tak akan bertemu dengan titik
yg sering kita lihat titik bertemu dengan titik ataupun garis bertemu dengan garisNamun seseorang lebih senang memilih titik saja atau garis saja dalam kehidupan mereka
Pilihan ini memang sudah menjadi hak seseorang jadi orang lain tidak bisa memaksakan kehendak ini
sesungguhnya kalau keduanya disatukan akan memperoleh bentuk baru yg boleh dikatakan sangat indah

Titik selamanya akan menjadi titik, garis juga selamanya akan menjadi garis
kalau mereka bertemu satu sama lain barang kali cuma kebetulan saja
maka dari itu hendaknya kita menyatukan perbedaan ini agar menjadi lebih bermakna dan indah

Ngawi, 19 Juli 2011
Boss Rudys

(Q persembahkan kepada Bidadarikoe pada khususnya dan kepada kawan2 pada umumnya)

Tanpa Judul

Sore itu daun cemara berlenggak-lenggok bagaikan peragawati menghampiriku..
dari arah mana datangnya aku pun juga tidak tahu namun sangat terasa..
Pelan tapi pasti mulai mengganggu fikiran dan kalbuku..

Ketika itu juga, ku tanyakan kepada bintang nan jauh di sana
kapan datangnya pagi karena aku sudah tak sabar melihat wajah sang putri

Panter, 13 Agustus 2011
by boss rudys

Suara Jengkerik

Suara jengkrik begitu menggema terdengar oleh telinga
sang putripun terlelap di atas ranjang hingga terbawa ke alam mimpi
bed cover jadi  saksi ketika engkau melepaskan lelas sejenak tuk menyongsong datangnya esok pagi

Suara jengkerik begitu indah berlahan suaranya makin hilang ditelan oleh bumi
apa inikah tanda datangnya pagi?
tak terasa sudah jam 3 pagi..
selamat malam pujaan hati semoga abadi dalam mimpi

Ngawi, 13 Agustus 2011
by boss rudys

Rembulan Malam ini Membuatku Iri

Rembulan malam ini membuatku iri..
Cahayanya begitu indah memancarkan getaran di hati
Burung camar tersenyum mesra dibalik tirai-tirai pohon cemara
membawa cerita cinta..

Rembulan malam ini membuatku iri..
Sinarnya hangat bak secangkir kopi..
Jaket lusuh menjadi saksi akan penantianku kepada sang putri
Walaupun jaket lusuh tak dapat berubah menjadi baru lagi namun cintaku tulus suci
selamanya engkau kan selalu tersimpan di saku dibalik jaket lusuhku..

 Ngawi, 13 Agustus 2011
Persembahan untuk teman2ku dan special buat permata hatiku
by boss rudys

Secangkir Kopi

Secangkir kopi menemaniku sepenuh hati
Ku tuangkan sedikit demi sedikit namun pasti
Ada kalanya saat ku teguk terasa manis kadang juga pahit
walaupun begitu tetap ku nikmati..

Ku tatap rembulan merah jambu, penuh canda tersenyum padaku
Pancaran cahayanya membias dan menembus kalbu membuka memori penuh arti

Secangkir kopi...
Nikmatnya menambah semangat diri..
Walaupun tadi pagi kerikil-kerikil sempat melukai,
janganlah engkau sesali karena itu menjadi pelajaran yang sangat berarti

Secangkir kopi hanyalah minuman biasa namun jasanya bak samudra

Ngawi, 13 Agustus 2011
by boss rudys
Persembahan untuk malaikat cantikku dan semua teman tercintaku

Hati Tanpa Cinta


Hati tanpa cinta...
Mengambang di samudera..
Perih bila terkena airnya..

Hati tanpa cinta...
Jangan biarkan aku merana
Obatilah hati yang sedang lara

Hati tanpa cinta...
Ku tunggu dirimu di ujung mimpiku..
karna aku ingin setia padamu..


Ngawi, 15 Agustus 2011
by boss rudys

Persembahan untuk teman-teman tanpa cinta

Senin, 01 Februari 2010

...belajar budaya jawa ttg kepemimpinan yukk...

Jumat, 20 Februari 2009

Dalam budaya jawa sebenarnya sangat sarat dengan filsafat hidup (ular-ular). Ada yang disebut Hasta Brata yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam seperti Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta,Samudra,Dahana dan Bhumi.

1. Surya (Matahari) memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya.
2. Candra (Bulan) , yang memancarkan sinar ditengah kegelapan malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka ataupun duka.
3. Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan
4. Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya.Prinsip seorang pemimpin hendaknya mempunyai ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampungpendapat rakyatnya yang bermacam-macam.
5. Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya.
6. Samudra (Laut/air), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.
7. Dahana (Api), mempunyai kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.
8. Bhumi (bumi/tanah), bersifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Pemimpin hendaknya bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai , agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah : Aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh. Maksudnya, sebagai pemimpin janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu menjadi seorang pemimpin.Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga sikap dan emosi bagi semua orang terutama seorang pemimpin.

Falsafah sebagai seorang anak buahpun juga ada dalam ajaran Jawa, ini terbentuk agar seorang bawahan dapat kooperatif dengan pimpinan dan tidak mengandalakan egoisme kepribadian, terlebih untuk mempermalukan atasan, seperti digambarkan dengan, Kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni,kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tapi jangan mendahului (sang pimpinan) , boleh pintar tapi jangan menggurui (pimpinan), boleh bertanya tapi jangan menyudutkan pimpinan. Intinya seorang anak buah jangan bertindak yang memalukan pimpinan, walau dia mungkin lebih mampu dari sang pimpinan. Sama sekali falsafah ini tidak untuk menghambat karir seseorang dalam bekerja, tapi, inilah kode etik atau norma yang harus di pahami oleh tiap anak buah atau seorang warga negara, demi menjaga citra pimpinan yang berarti citra perusahaan dan bangsa pada umumnya. Penyampaian pendapat tidak harus dengan memalukan,menggurui dan mendemonstrasi (ngrusuhi) pimpinan, namun pasti ada cara diluar itu yang lebih baik. Toh jika kita baik ,tanpa harus mendemonstrasikan secara vulgar kebaikan kita, orang pun akan menilai baik.

Dalam kehidupan umum pun ada falsafah yang menjelaskan tentang The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). Di falsafah jawa istilah itu diucapakan dengan Ajining diri saka pucuke Lathi, Ajining raga saka busana. Artinya harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan sebaiknya seseorang dapat menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya). Sehingga tak heran jika seorang yang karena ucapan dan pandai menempatkan dirinya akan dihargai oleh orang lain. Tidak mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya ini ,sebenarnya mengajarkan suatu sikap yang dinamakan profesionalisme, yang mungkin agak jarang dapat kita jumpai (lagi). Sebagai contoh tidak ada bedanya seorang mahasiswa yang pergi ke kampus dengan yang pergi ke mal , dan itu baru dilihat dari segi busana/bajunya , yang tentu saja baju akan sangat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi seseorang.

sumber : http://netlog.wordpress.com/
Diposkan oleh Iwan Sugihartono di 01:40

Minggu, 31 Januari 2010

NASIB KESENIAN DAN KEBUDAYAAN KITA

Seiring perkembangan zaman, KESENIAN dan KEBUDAYAAN yang kita miliki semakin tenggelam ditelan oleh masa. Hal tersebut terjadi karena generasi muda kurang peka dan mencintai budaya yang adi luhung ini, justru sebaliknya mereka lebih suka terhadap budaya barat yang serba bebas itu. Sungguh kasihan nasib Kesenian dan Kebudayaan warisan nenek moyang kita. Apakah Anda menginginkan warisan budaya ini lenyap? Hanya Andalah yang tahu jawabannya.

Hal tersebut di atas lah yang membuat Negara-Negara lain dengan mudah mengklaim seni dan budaya yang di miliki Indonesia. selagi masih ada kesempatan, saya mengajak semua kalangan masyarakat khususnya generasi muda penerus bangsa untuk mencintai, melestarikan, dan mengembangkan warisan adi luhung supaya anak cucu kita dapat menikmati dan mengetahu beragam seni budaya nusantara ini.